Hikayat Sri Rama (1843)
Rumi
|
Bahawa ini ceritera orang dahulu kala yang di negeri Hindustan seraya ini "Hikayat Maharaja Sri Rama" namanya maka dipindahkan dari pada surat naskhah oleh yang empunya dia yaitu Hakim Roorda van Eysinga adapun kitab ini sudah ditera di negeri Breda pada perteraan tuan-tuan Broese dan Perseronya itu pada Hijriah 1358
Alkisah, ini hikayat dari pada ceritera orang dahulu kala maka diceriterakan oleh yang empunya ceritera ini di dalam benua Keling ada seorang raja terlalu besar kerajaannya di dalam negeri, maka dinamai ia hikayat ini ceritera Maharaja Sri Rama namanya, anak dari pada Maharaja anak Dasarata. Ada pun akan Maharaja Dasarata itu anak Dasarata Cakrawati, dan Dasarata Cakrawati itu anak Dasarata Raman, dan Dasarata Raman itu anak Dasarata, dan Dasarata itu anak Nabi Adam. Ada pun akan Dasarata Maharaja itu terlalu sangat saktinya dan gagah berani lagi pahlawan tiada berbagi lagi dan elok parasnya. Pada zaman itu seorang pun dari pada segala raja-raja di dalam dunia ini tiada yang menyamai kepada Baginda, maka Baginda itupun berkehendak mencahari tempat yang baik hendak diperbuatnya negeri yang seperti kehendak hatinya, supayya ditinggalkannya kepada anak cucunya turun temurun. Maka Baginda pun menitahkan perdana menteri yang bernama Puspa Jaya Karam pergi mencahari tempat akan diperbuatnya negeri yang seperti kehendak hati baginda itu. Maka Puspa Jaya Karam pun bermohon kebawah duli baginda lalu ia berjalan dengan segala menteri dan hulubalang dan ra'yat empat laksa yang pergi mengiringkan akan dia itu. Setelah beberapa lamanya, maka bertemulah ia dengan suatu tempat yang seperti akan kehendak Baginda Dasarata Maharaja itu. Maka Puspa Karam Jaya itupun menyuruhkan segala ra'yat yang empat laksa itu menyucikan itu dari pada segala pohon kayu yang besar-besar dan batu yang besar-besar disuruh bongkar. Setelah sudah maka iapun menyuruhkan seorang menteri pergi memberi tahu kepada Baginda. Setelah menteri itu sampai, maka iapun masuk menghadap kepada Baginda, maka sembahnya: "Adapun duli tuanku sudah menitahkan mencahari tempat yang seperti kehendak duli seri maharaja itu, dengan daulat duli itu, telah adalah patik sekalian bertemu tempat itu yang layaklah akan tempat itu diperbuatnya negeri. Tanahnya pun rata dan sama tengahnya. Pun sebuah bukit terlalu sekali elok rupanya, layak akan tempat istana duli yang dipertuan." Maka Baginda pun terlalu sukacita mendengar sembah menteri itu seraya menyuruhkan segala raja-raja dan menteri-menteri dan segala hulubalang sida-sida bintara dan segala orang kaya di dalam negeri Asfahaboga(?) itu akan pergi menyucikan tempat itu. Maka segala mereka itu pun berjalanlah akan mendapatkan Bikram Puspa Jaya dengan segala ra'yatnya. Setelah datang kepada tempat itu, maka segala raja-raja dan menteri-menteri itu bekerjalah masing-masing dengan ketumbukannya kepada tempatnya. Maka dengan dua tiga hari juga akan tempat itupun bersihlah dan teranglah. Setelah datanglah kepada sama tengah bukit itu, maka adalah serumpun buluh betung, warnanya seperti emas sepuluh mutu dan daunnya seperti perak. Maka segala pohon kayu yang hampir kepada buluh betung itu sekalian cenderung kepadanya seperti payung menaungi buluh itu. Hatta maka segala menteri dan hulubalang pun datanglah menetak rumpun buluh itu. Apabila dari kiri ditetaknya, maka dari kanan tumbuh. Maka apabila ditetaknya dari kanan, maka dari kiri tumbuh. Dengan demikian juga sentiasa itu. Maka segala raja-raja dan menteri dan hulubalang sekaliannya pun hairan akan melihat kelakuan buluh betung itu. Maka menteri Puspa Bikram Jaya itupun segera kembali menghadap Dasarata Maharaja bepersembahkan akan segala kelakuan buluh betung itu. Maka Baginda pun terlalu hairan akan mendengar sembah menteri itu. Maka titah Baginda: "Jikalau demikian, baiklah esok hari aku pergi melihati kamu sekalian menebang buluh itu. Setelah keesokan harinya itu, maka Baginda pun naiklah ke atas gajah putih, lalu berjalan diiringkan oleh segala raja-raja dan menteri-menteri dan segala hulubalang catri dan kesatria sida-sida bentar(?) dan segala ra'yat yalantentaranya(?) yang tiada tepermanai itu. Setelah sampailah Baginda kepada tempat itu, maka titah Baginda: "Manatah buluh betung itu?". Maka sembah Bikram Puspa Jaya: "Itulah, Tuanku, yang dinaungi oleh segala pohon kayu itu". Maka dilihatnya oleh Baginda rumpun buluh betung itu terlalu indah-indah sekali rupanya itu dan baunya pun terlalu harum, seperti narwastu dan kasturi baunya itu. Maka titah Baginda: "Hai Bikram Puspa Jaya, diparang olehmu buluh itu kulihat". Maka Bikram Puspa Jaya pun segera mengunus pedangnya yang seperti benang nyiur besarnya. Maka lalu diparangnya rumpun buluh itu. Maka dengan sekali parang itu juga, rumpun buluh itupun habis putus-putus. Maka seketika itu juga, rumpun buluh betung itu tumbuh pula dari kiri, maka diparangnya dari kiri. Maka tumbuh itu dari kanan. Setelah dilihat oleh Baginda akan hanenya(?) buluh betung itu. Maka Baginda pun terlalu amarah. Maka Baginda pun turun dari atas gajahnya seraya mengunus pedangnya lalu diparangkannya oleh Baginda akan buluh betung itu. Maka dengan sekali parang itupun habis putus-putus. Maka dengan takdir Dewata, maka dilihat oleh Baginda seorang perempuan di dalam rumpun itu duduk danisan(?) gita dengan perhiasannya dan warna mukanya bercahaya-cahaya seperti bulan puranama pada empat belas hari bulan dan warna tubuhnya seperti emas sepuluh mato. Maka Dasarata Maharaja pun segera membuka ikat pinggangnya alu diselimutinya putri itu. Maka lalu didukungnya dinaikkannya keatas gajah. Maka lalu dibawanya ke istananya dengan segala bunya bunyinya. Setelah sampai ke negeri, lalu Bagina masuk ke istananya mendukung tuan putri itu, dibawanya turun dari atas gajahnya lalu dibawanya masuk ke dalam istana. Maka Dasarata Maharaja pun terlalu suka hatinya seraya Baginda menyuruhkan menteri Puspa Bikram Jaya berbuat perarakan tujuh belas pangkat dan empat puluh parakan yang kecil akan mengiringkan perakan yang besar itu. Maka segala raja-raja itupun bekerjalan masing-masing dengan pegangannya dan masing-masing dengan tahunya. Maka kepada hari itu juga Baginda memulai pekerjaan berjaga-jaga empat puluh hari empat puluh malam berjaga-jaga, makan minum dengan segala bunya bunyinya. Maka beberapa ratus kerbau dan lembu dan kambing biri-biri dan ayam itik dan gangsa disembelih orang akan tumbal orang makan minum itu. Maka segala bunya bunyinya pun dipalo(?) oranglah dari pada gong, gendang, serunai, nagara, argan(?), nafiri, samping sekani(?) sangka medali katram kantri(?) terlalu gempita bunyinya. Maka perarakan pun sudahlah diperbuat orang terlalu indah-indah sekali buatannya. Setelah genaplah empat puluh hari ia berjaga-jaga, maka pada ketika yang baik, maka Bagina pun memakailah dari pada segala pakaian yang indah-indah dengan tuan putri yang bernama Mandu Dari. Setelah sudah memakai, maka Bagina pun memamangan tangan tuan putri lalu dibawanya naik ke atas Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/11 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/12 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/13 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/14 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/15 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/16 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/17 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/18 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/19 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/20 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/21 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/22 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/23 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/24 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/25 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/26 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/27 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/28 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/29 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/30 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/31 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/32 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/33 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/34 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/35 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/36 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/37 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/38 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/39 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/40 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/41 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/42 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/43 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/44 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/45 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/46 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/47 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/48 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/49 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/50 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/51 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/52 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/53 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/54 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/55 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/56 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/57 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/58 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/59 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/60 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/61 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/62 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/63 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/64 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/65 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/66 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/67 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/68 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/69 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/70 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/71 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/72 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/73 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/74 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/75 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/76 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/77 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/78 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/79 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/80 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/81 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/82 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/83 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/84 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/85 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/86 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/87 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/88 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/89 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/90 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/91 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/92 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/93 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/94 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/95 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/96 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/97 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/98 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/99 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/100 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/101 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/102 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/103 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/104 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/105 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/106 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/107 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/108 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/109 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/110 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/111 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/112 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/113 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/114 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/115 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/116 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/117 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/118 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/119 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/120 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/121 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/122 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/123 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/124 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/125 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/126 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/127 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/128 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/129 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/130 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/131 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/132 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/133 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/134 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/135 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/136 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/137 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/138 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/139 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/140 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/141 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/142 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/143 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/144 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/145 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/146 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/147 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/148 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/149 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/150 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/151 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/152 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/153 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/154 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/155 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/156 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/157 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/158 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/159 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/160 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/161 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/162 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/163 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/164 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/165 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/166 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/167 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/168 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/169 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/170 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/171 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/172 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/173 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/174 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/175 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/176 Laman:Geschiedenis van Srî Râma.pdf/177 dirajakannya di dalam negeri Darya Pura Negara adapun akan anakda kusi itupun dikawinkannya olah Seri Rama dengan anaknya Gangga maha sora yang bernama Gangga سرني dewi serat dirajakannya di dalam negeri Langkapuri adapun Seri Rama merajakan patih jemboan di negeri کلمبورن ݢڠس maka akan nila اڠݢاد itupun dirajakannya kepada negeri anta Pura Negara maka انيل itupun dirajakannya di negeri Inderaprasta dan نيلابتي menjadi raja di negeri merdu وغسمک nol dan nila dirajakannya di negeri Hastina maka اشکت dan مهبيرو dirajakannya di negeri mandu kepur maka کارخ تويل dirajakannya di negeri Pura Negara maka segala hulubalang yang tiga polah tiga itu maka semuanya dirajakannya kepada negeri yang kecil-kecil maka pada tiap raja itu dianugerahkan oleh Seri Rama isteri yang terlalu amat elok paras serta terpilih di dalam sekal anak bininya raja Raksasa yang mata itu setelah beberapa lamanya maka Seri Rama pun berebut suatu negeri kecil pad tempat orang bertapa maka baginda pun pindahlah dari negeri Darya Pura Negara itu ke negeri yang baharu diperbuatnya maka dinamainya negeri itu Ayodya Pura Negara maka
Seri Rama pun dimlah disana dengan Laksanama dan sang Hanoman syahadan maka Maharaja Seri Rama dan
Sita Dewi pun duduklah bersuka-sukaan dua berkasih-kasihan dua laki isteri di dalam negeri
itu dan qararlah di atas kerajaannya kepada anak cucunyapun menjadi raja besar turun
menuruh demikianlah ceritanya diceriterakan olah dalang yang empunya ceritera daripada Maharaja
Seri Rama dan Laksanama yang termasyhur namanya di tanah benua Keling dan benua Siam
datang ke benua Basrah datang ke benua Turki datang ke benua Walanda sampai datang
sekarang ini disebat orang dan dihikayatkannya daripada hikayat
yang dikarang olah orang yang arif bijaksana daripada
mengarang bahasa dan perkataan yang dipatutkannya
dan yang diaturnya olah orang yang arif
menyusunkan perkataan dalamnya yang terkarang
itu telah selesailah perkataan
riwayat dalamnya itu
tamat hikayat Maha
Raja Seri
Rama